
Judul : A Little White Lie
Penulis: Titish AK
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2007
Kali ini saya akan review novel
pertama yang saya baca yaitu A Little White Lie.Awalnya ngga sengaja liat temen
bawa novel ini ke sekolah,karena penasaran waktu itu coba baca beberapa halaman
ngga taunya keterusan sampe pinjam untuk dibawa pulang.Agak aneh juga bacanya
karena novel ini terbitan tahun 2007,dan saya baca novel itu waktu kelas 3 smp.Tapi
ngga masalah sihh,karena itu menyesuaikan pada jamannya juga.
Titish AK memulai debutnya menulis
novel dengan cukup baik. A Little White Lie (selanjutnya disingkat ALWL)
benar-benar mampu menceritakan bagaimana kehidupan “real” seorang remaja.
Membuat saya curiga kalau tokoh utama dalam novel ini, Ocha, merupakan penulis
sendiri. Hehe.Karena novel ini seperti tulisan diary yang disusun dengan
sangat rapi.
Temanya sederhana, yaitu
menceritakan bagaimana seorang cewek merasakan cinta pertamanya. Garis besar
cerita benar-benar sesuai dengan tema. Dan, alur yang disajikan pun membuat
pembaca nyaman dan hanyut dalam cerita. Hanya saja, awal-awal novel memang
sangat membuat capek/bosan pembaca.Tapi endingnya mampu membuat kita tidak
menyangkan karena benar-benar surprise banget.
Penulis cukup berhasil
mendeskripsikan latar tempat yang digunakannya. SMA Teratai, Jalan Sudirman,
Kampus UGM, dan Bioskop Mataram dijelaskan dengan cukup rinci.Menambah kesan
real itu benar-benar ada dan terjadi.
Karakterisasinya cukup kuat. Hanya
saja, karakter Pia agak ambigu. Sebenarnya dia pelit atau baik hati sih?
Maksudnya, dia baiknya tulus atau pas ada maunya sih? Inilah yang bikin nilai
minus.
Sepanjang novel ini, pembaca akan
disuguhi dengan guyonan-guyonan yang menghibur dari tingkah laku kocak para
pemainnya. Ditambah lagi dengan gaya bahasa penulis yang cukup mengalir dan
terkesan lambat.
Sayang, keunggulan-keunggulan novel
ini harus diperburuk dengan sms-sms yang menggunakan bahasa @L4Y. Parahnya,
porsi untuk adegan sms ini cukup banyak! Duh!Maklum aja sih namanya juga jaman
dulu.
Overall, saya suka. Seperti yang
sudah saya jelaskan di atas, novel ini sebenarnya punya potensi yang bagus
untuk mengasyikkan sejak awal. Namun, deskripsi yang terlalu detail dan konflik
yang datar di 70 halaman awal novel membuat pembaca bosan untuk meneruskannya.
Padahal, setelah dibaca sampai akhir, mungkin saja mereka akan suka (bagian
akhirnya).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar