Jumat, 02 November 2018

Assalamualaikum Calon Imam karya Ima Madaniah


Hasil gambar untuk review novel assalamualaikum calon imam 
Judul : Assalamualaikum Calon Imam
Penulis : Ima Madaniah
Penerbit : Coconut Books
Tahun Terbit : November 2017

Surat-surat cinta Nafisya untuk calon imamnya tak dipungkiri layaknya pedang yang menghujam langsung ke ulu hati. Manis, romantis, bahkan kadang menyayat hati.
Ketika genre novel percintaan remaja sedang kekinian, maka buku setebal 476 berjudul Assalamualaikum Calon Imam turut meramaikan jagat buku populer Tanah Air.

Kehadirannya memang tampak berbeda karena memilih segmen yang lebih sempit ketimbang novel senada kompetitornya, yakni remaja muslimah.
Cover buku yang dipilih pun terlampau lembut dan sangat mudah disukai oleh segmen yang dibidiknya yakni merah muda dipadu warna krem pias dengan model perempuan berhijab memunggungi pembaca.

Unik, menjadi kesan pertama bagi siapapun yang memegang novel terbitan Coconut Books yang cetak pada November 2017 itu.
Buku karya Ima Madaniah ini menjadi semakin menarik lantaran ditulis oleh remaja yang lahir di Bandung pada 24 Desember 1998.

Ima Madaniah mengisahkan tentang perjalanan seorang tokoh remaja muslimah bernama Nafisya Kaila Akbar untuk menemukan calon imam terbaiknya.
Nafisya terlahir di lingkungan keluarga yang agamis dan Islami sehingga cerita di dalamnya kental dengan filosofi ke-Islaman yang dalam.
 Nafisya juga dikisahkan sebagai remaja putri yang sholehah, rajin beribadah, dan menolak untuk jatuh cinta karena tak ingin rasa cintanya kepada Tuhan berkurang sedikit saja.
 
Penulis buku dengan nama pena Madani itu mampu menghidupkan karakter tokoh Nafisya dengan amat kuat di samping tokoh-tokoh pendukung lain yang disajikan dengan karakter yang tak kalah kuatnya sepeti Jidan, Kak Salsya, Ummi, hingga Dokter Alif.

Wajar jika buku karyanya ini telah dibaca oleh lebih dari 3 juta kali dalam versi wattpadnya.

Novel ini menjadi sangat sulit untuk dilepaskan hingga halaman terakhir karena menyajikan jalan cerita yang penuh kejutan, menghentak-hentakkan, dan sulit ditebak.
Sewajarnya novel kisah cinta monyet yang hambar, buku ini sangat jauh dari kesan membosankan.
Novel yang segera difilmkan dengan judul yang sama itu tidak sekadar menceritakan pilunya Nafisya ketika lelaki yang dicintainya yakni Jidan justru diam-diam ingin melamar sang kakak, Salsya.
Hatinya kian hancur ketika keinginan Jidan yang dicintai dan disebutnya sebagai makhluk marsnya itu benar-benar mewujudkan keinginan untuk melamar bahkan menikahi Salsya.

Novel ini juga diwarnai dengan bumbu pahitnya trauma yang harus ditanggung sang anak ketika orang tuanya harus bercerai. Hal itu pulalah yang dialami Nafisya dan Salsya hingga membuat Nafisya khususnya kehilangan kepercayaan kepada laki-laki.

Bahkan ketika Dokter Alif hadir dalam hidupnya sebagai dosennya yang galak tetapi memesona, Nafisya benar-benar tak ingin memupuk perasaan kagumnya.

Dendamnya kepada Abi (ayahnya) yang telah meninggalkan Ummi dan menceraikannya untuk hidup bersama perempuan lain ibarat amat kesumat dan sulit bagi Nafisya untuk memaafkan pria manapun.

Meski pada akhirnya, ia dibenturkan pada berbagai persoalan hidup yang membuatnya untuk kemudian dapat memahami mengapa kedua orang tuanya berpisah.

Mahasiswa Fakultas Farmasi itu pun mulai dapat menerima kehadiran kembali Abi dalam hidupnya seiring semakin intensnya pertemuan dengan Dokter Alif yang kerap kali memberikan detensi (hukuman) kepadanya karena beberapa kali tak mengerjakan tugas.

Sejatinya, siapa tak tertarik pada sosok Dokter Alif yang ganteng, cerdas, mapan, dan masih single itu. Di usia yang 29 tahun, ia menjadi idola mahasiswa di dua fakultas sekaligus; kedokteran dan farmasi.

Sayangnya, Fisya tak yakin perasaannya kepada Dokter Alif adalah peracaan cinta sejati atau sekadar kekaguman seorang mahasiswa kepada dosennya.

Serba kebetulan pun banyak terjadi sepanjang cerita novel ini meski bukan semata kebetulan ketika Dokter Alif menyampaikan keinginan untuk melamar Nafisya.

Fisya memang tidak serta merta mengiyakan karena masih terjebak dalam kegalauan panjang dan patah hati mendalam lantaran Jidan dan Salsya akan menikah dalam waktu dekat.

Cinta dan sayangnya kepada Abi yang ternyata menderita sakit gagal ginjal (yang dirahasiakan darinya) membuat Nafisya justru meminta Dokter Alif menikahinya di hadapan sang ayah.
 Nafisya pun pada akhirnya mampu memenuhi harapan tertinggi sang ayah untuk bisa menikahkan putri-putrinya termasuk dirinya sebelum menghembuskan napas terakhir.
Maka sebelum, perjalanan kisahnya usai di bangku kuliah ia menjalankan peran sebagai istri seorang Dokter Alif.

Dalam perjalanannya, Nafisya nyatanya menderita multiple sclerosis yang makin parah dari waktu ke waktu hingga ancaman kebutaan permanen.Derita itu ia simpan rapat-rapat dari sang suami bahkan ia diam-diam mempersiapkan perceraian agar suaminya bisa memiliki kehidupan yang lebih baik dan bahagia bersama perempuan lain. Tentu saja sang dokter menolak.
Nafisya tidak menyerah, ia terus meminta berpisah dengan alasan tak bahagia sampai kemudian Dokter Alif menjatuhkan talak padanya.

Kejutan lain terjadi ketika Nafisya mengalami koma akibat sakitnya yang kian parah. Bumbu-bumbu kata mutiara dan ayat-ayat Islami baik dari hadist Nabi maupun Al-Quran mengalir deras tanpa ada kesan menggurui dalam novel ini.
Sebuah akhir yang bahagia didapatkan setelah pembaca dibuat terengah-engah dengan perjalanan penuh haru seorang muslimah bernama Nafisya.

Surat-surat cinta Nafisya untuk calon imamnya tak dipungkiri layaknya pedang yang menghujam langsung ke ulu hati. Manis, romantis, bahkan kadang menyayat hati.
Sampai kemudian ia menemukan salam bukan lagi untuk calon imamnya namun untuk imamnya yang sebenarnya.
 
Novel ini menjadi semakin layak untuk dibaca siapa saja yang menginginkan warna lain kisah percintaan penuh kejutan yang benar-benar tidak biasa.

Tentang Kamu karya Tere Liye


Hasil gambar untuk review tere liye tentang kamu 
Judul Buku : Tentang Kamu
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika Penerbit
Tahun Terbit : 2017 (Cetakan X)

Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu,
itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku.
 Cinta memang tidak perlu ditemukan,
cintalah yang akan menemukan kita.

Terima kasih. Nasihat lama itu benar sekali,
aku tidak akan menangis karena sesuatu telah berakhir,
tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi.

Masa lalu. Rasa sakit. Masa depan. Mimpi-mimpi.
Semua akan berlalu. Seperti sungai yang mengalir.
Maka biarlah hidupku mengalir seperti sungai kehidupan.

Novel “Tentang Kamu” memiliki tokoh utama dengan nama yang unik, Zaman. Lengkapnya Zaman Zulkarnaen. Zaman adalah seorang lulusan master hukum di Oxford University. Ia bekerja sebagai associate di firma hukum Thompson & Co., firma hukum  di bidang Elder Law yang menjadi legendaris karena prinsip serta komitmen yang dipegangnya.

Hingga suatu hari, ia dipanggil oleh atasannya untuk menuntaskan sebuah kasus dari kliennya. Kasus ini merupakan permasalahan harta warisan yang ditinggalkan oleh kliennya yang baru saja meninggal. Usut punya usut, harta warisan yang ditinggalkan oleh kliennya ini jumlahnya begitu besar yaitu 1% saham perusahaan besar yang dalam kurs poundsterling senilai satu miliar poundsterling atau dalam kurs rupiah setara dengan 19 triliun rupiah.  Dan ternyata, kliennya ini bernama Sri Ningsih berkewarganegaraan dengan Zaman yaitu Indonesia.

Sayangnya, data diri Sri Ningsih begitu sulit untuk ditemukan. Bahkan surat wasiatnya pun tidak ada. Sehingga sulit untuk mencari siapa ahli pewarisnya yang berhak menerima warisannya. Sri Ningsih hanya meninggalkan sedikit barang, dan yang bisa membantu Zaman menuntaskan kasus Sri Ningsih hanyalah sebuah diari yang ditulis oleh tangan Sri Ningsih sendiri diberikan oleh Aimee pengurus panti yang mendapat kepercayaan dari Sri Ningsih untuk menghubungi kantor pengacara apabila dia meninggal dan menyimpan diary Sri Ningsih sebelum ia kehilangan kesadaran.

Diary yang menjadi kompas bagi Zaman untuk melangkah, diary tersebut berisi 5 bagian. Sri menuliskan bagian ini dengan kata juz. Juz pertama tentang kesabaran. Di sini kita akan menyaksikan masa kecil Sri Ningsih yang penuh dengan keharuan yang dimulai 1946 sampai 1960. Zaman akan mulai menjelajahi Pulau Bungi yang ada di Sumbawa. Tidak jauh dengan kata pantai, perahu dan ikan.  

Peristiwa besar yang akan menguji kesabaran pembaca akan terasa pada bagian ini. Juz kedua adalah persabatan. Melalui rangkaian kisah yang panjang bermula pada 1961-1966 kita akan merasakan persahabatan indah yang berubah hanya karena kedengkian yang begitu dalam. Kisah Sri pada tahun ini akan mengajak kita merasakan gejolak politik Indonesia pada masa itu dari partai komunis.

Juz ketiga adalah keteguhan hati. Kisah yang berlangsung pada 1967-1979 akan membuat kita termotivasi dengan semangat yang digambarkan Ningsih. Di sinilah kita akan melihat sejarah Jakarta tempoe doeloe seperti monas yang dikelilingi rumput-rumput, kerbau-kerbau yang berseliweran, ungkapan pedagang kaki lima, sewa kost 200 rupiah, dll. Mana pas bagian ini disinggung-singgung pula yang namanya ojek online,hehe. Nah, keteguhan hati Ningsih akan ditempa disini, karena disini ia akan belajar berbisnis hingga akhirnya memiliki perusahaan. Hingga akhirnya terjawab pertanyaan mengapa ia memiliki 1% saham perusahaan besar

Juz keempat adalah Cinta, “Mencintaimu telah memberikanku keberanian, dan dicintai olehmu begitu dalam telah memberikanku kekuatan. Terima kasih. Aku tidak akan menangis sedih karena semua berakhir, aku akan tersenyum karena semua hal itu pernah terjadi.” Saat ini kita diajak melihat sisi lain dari sosok Sri sebelumnya. Kisah cinta Sri dengan seorang pria keturunan Turki bernama Hakan akan membangkitkan rasa yang sangat campur aduk bagi pembacanya. Rasa suka-duka, haru serta tawa akan menghiasi kisah yang berlangsung pada 1980-1999 di London. Sederhana tapi manis sekali.

Juz terakhir novel ini mengisahkan tentang memeluk semua rasa sakit. Sri akhirnya bisa menerima dengan lapang segala kejadian yang menimpa dirinya. Diceritakan bagaiamana Sri dari Londo tiba-tiba ke Paris dan akhirnya meninggal di Panti Jompo. Dan di beberapa bagian diceritakan selintas masa lalu seorang Zaman yang penuh dengan kepedihan, ia ingin belajar seperti Sri Ningsih untuk berdamai dengan siapa pun tetapi ternyata ia tidak bisa untuk kasusnya.

Novel karya ke 28 dari 33 yang ditulis oleh Tere Liye ini menggunakan alur maju mundur artinya dalam cerita terjadi flashback ke masa lalu dan kejadian masa datang. Dimana perjalanan Zaman yang menelusuri potongan-potongan cerita hidup Sri Ningsih dari masa kecil hingga akhir hayatnya demi menemukan ahli waris dari harta yang ditinggalkannya. Banyak tema di bahas dalam buku ini sehingga dekat dengan pembaca. Kita bisa memposisikan dirinya sebagai tokoh utama yang jatuh cinta, yang hidupnya penuh ujian dan menempatkan diri juga sebagai tokoh dalam karya tersebut. karena karakter-karakter tokoh di novel ini terasa nyata.
Novel Tentang Kamu menggunakan sudut pandang orang ketiga. Biasanya memang sudut pandang orang pertama yang lebih bisa mendapati ‘feel’nya. Tapi, sekali lagi, inilah Tere Liye, penulis yang sangat piawai dalam merangkai tulisan-tulisannya. Walaupun memakai sudut pandang orang ketiga, pembaca tetap bisa mendapati feel yang mendalam. Karena Tere Liye menuliskannya dengan penjabaran yang sangat detail.

Surat Kecil Untuk Tuhan karya Agnes Davonar


Hasil gambar untuk review novel surat kecil untuk tuhan

Judul: Surat Kecil Untuk Tuhan
Pengarang : Agnes Davonar
Tahun terbit : Agustus 2008
                                                        Tebal buku : 228 halaman

Gita Sesa Wanda Cantika atau yang biasa dipanggil Keke adalah gadis kecil berusia 13 tahun yang pintar dan aktif mengikuti semua kegiatan di sekolah , Keke tinggal dengan Ayahnya yaitu pak Joddy Tri Aprianto yang bijaksana dan sabar serta kedua kakaknya yang selalu setia. Awalnya ia hidup bahagia dengan keluarganya, meski sempat merasa sedih karena perceraian kedua orang tuanya. Hingga suatu hari, Keke mengalami sakit mata yang ternyata bukan sakit mata biasa, bukan pula sinus, tetapi itu adalah kanker ganas, kanker jaringan lunak. Keke didampingi ayah tercinta dan kedua kakaknya melakukan pengobatan, dari pengobatan alternatif, operasi, sampai kemoterapi sudah dilakukannya. Tapi akhirnya Tuhan lebih sayang kepada Keke, tanggal 25 Desember 2006 Keke menghembuskan nafas terakhirnya pada pukul 12 malam.

Novel Surat Kecil Untuk Tuhan ini menceritakan secara lengkap serta terperinci perjalanan dan perjuangan hidup Keke yang sabar dan pantang menyerah melawan penyakit kanker jaringan lunak pertama kali di Indonesia . Terlebih cara penulis menyampaikan cerita Keke tersebut dengan jelas menggambarkan setiap kisah-kisah Gitta yang penuh misteri, dari kebahagian, kesedihan, senyuman dan air mata. Hal itu membuat para pembaca akan dengan mudah mengerti hingga larut dalam cerita seperti benar-benar telah mengenal Keke yang tangguh dengan begitu dekat . Hanya saja di antaranya kata-kata penulis dalam novel kadang membuat pembaca berimajinasi lain dalam menafsirkan kata-kata kiasan penulis.



SURAT KECIL UNTUK TUHAN

Tuhan . . .
Andai aku bisa kembali
Aku tidak ingin ada tangisan didunia ini
Tuhan . . .
Andai aku bisa kembali
Aku berharap tidak ada lagi hal yang sama terjadi padaku terjadi pada orang lain
Tuhan . . .
Bolehkan aku menulis surat kecil untuk-Mu
Tuhan . . .
Bolehkah aku memohon satu hal kecil untuk-Mu
Tuhan . . .
Biarkanlah aku dapat melihat dengan mataku
Untuk memandang langit dan bulan setiap harinya
Tuhan . . .
Izinkanlah rambutku kembali tumbuh agar aku bisa menjadi wanita seutuhnya
Tuhan . . .
Bolehkah aku tersenyum lebih lama lagi
Agar aku bias memberikan kebahagiaan kepada ayah dan sahabat-sahabatku
Tuhan . . .
Berikanlah aku kekuatan untuk menjadi dewasa
Agar aku bisa memberikan arti hidup kepada siapapun yang mengenalku
Tuhan . . .
Surat kecilku ini
Adalah surat terakhir dalam hidupku
Andai aku bisa kembali . . .
Ke dunia yang Kau berikan padaku
Itulah untaian kata yang tertera dalam surat kecilnya kepada Tuhan. Agnes Davonar, yang lebih dikenal sebagai cerpenis online mendapat kesempatan untuk menuangkan kisah nyata gadis kecil ini dalam sebentuk karya sastra.
Buku ini cocok dibaca oleh semua umur karena banyak pelajaran dan keteladanan yang dapat kita ambil dari novel ini . Manfaat setelah membaca buku ini adalah kita menjadi mengerti kembali bahwa segala cobaan yang diberikan Tuhan adalah sebuah keharusan yang harus dijalankan dengan bersyukur dan beriman.